• header
  • header
  • header
  • DESIGN BANGUNAN
  • gmb atas

AHLAN WASAHLAN WEBSITE SMK NASYRUL ULUM PANDEGLANG | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMK NASYRUL ULUM PANDEGLANG

NPSN : 20 600 566

Jalan Raya Serang Km. 1,5 Pandeglang 42213 Banten


info@smknasyrululumpdg.sch.id

TLP : 087772834873


          

Banner

Jajak Pendapat

No Poles setup.

Statistik


Total Hits : 133897
Pengunjung : 38988
Hari ini : 40
Hits hari ini : 63
Member Online : 0
IP : 18.210.22.132
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

HUT Provinsi Banten Ke-19 Tahun





 


19 Tahun Hari Jadi Provinsi Banten


Masjid Agung, Banten (Foto: Pesona Travel)


 


 


 


 


 


 


 


MONITOR – Hari ini, Kamis, 04 Oktober 2019, merupakan hari jadi Provinsi Banten yang ke-19. Sembilan Belas Tahun yang lalu, 04 Oktober 2000, Provinsi Banten resmi menjadi provinsi baru, terpisah dari Provinsi Jawa Barat.


Provinsi Banten terdiri dari 4 kabupaten dan 4 kota yang meliputi, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang, dan Kota Tangerang Selatan.


Banten merupakan sebuah provinsi di Tatar Pasundan, serta wilayah paling barat di Pulau Jawa, Indonesia. Provinsi ini pernah menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun menjadi wilayah pemekaran sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Pusat pemerintahannya berada di Kota Serang.


 


 


 


 


 


 


 


 


Sejarah Singkat Provinsi Banten


Pemerintahan Provinsi Banten


Berdasarkan sumber dari KabarTangsel.com, Banten sebagai nama suatu wilayah sudah dikenal dan diperkenalkan sejak abad ke 14. Mula-mula Banten merupakan pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah hingga orang Eropa yang kemudian menjajah bangsa ini.


Pada tahun 1330 orang sudah mengenal sebuah negara yang saat itu disebut Panten, yang kemudian wilayah ini dikuasai oleh Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk. Pada masa-masa itu Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak merupakan dua kekuatan terbesar di Nusantara.


Tahun 1524–1525 para pedagang Islam berdatangan ke Banten dan saat itulah dimulai penyebaran agama Islam di Banten. Sekitar dua abad kemudian berdiri Kadipaten Banten di Surasowan pada 8 Oktober 1526. Pada tahun 1552 –1570 Maulana Hasanudin Panembahan Surosowan menjadi Sultan Banten pertama.


Sejak itu dimulailah pemerintahan kesultanan di Banten yang diakhiri oleh Sultan Muhammad Rafi uddin (1813 – 1820) merupakan sultan ke dua puluh setelah sultan dan rakyat masa sebelumnya berperang melawan penjajah. Namun demikian perjuangan rakyat Banten terus berlanjut hingga detik terakhir kaki penjajah berada di bumi Banten.


Setelah memasuki masa kemerdekaan muncul keinginan rakyat Banten untuk membentuk sebuah provinsi. Niatan tersebut pertama kali mencuat di tahun 1953 yang kemudian pada 1963 terbentuk Panitia Provinsi Banten di Pendopo Kabupaten Serang. Dalam pertemuan antara Panitia Provinsi Banten dengan DPR-GR sepakat untuk memperjuangkan terbentuknya Provinsi Bnten.


Pada tanggal 25 Oktober 1970 Sidang Pleno Musyawarah Besar Banten mengesahkan Presidium Panitia Pusat Provinsi Banten. Namun ternyata perjuangan untuk membentuk Provinsi Banten dan terpisah dari Jawa Barat tidaklah mudah dan cepat.


Selama masa Orde Baru kenginan tersebut belum bisa direalisir. Berdirinya Provinsi Banten tidak dapat lepas dari sejarah Banten yang seutuhnya, dari berbagai sumber yang didapat sejarah Banten sendiri di mulai pada abad ke-7 yang diawali dari sebuah pelabuhan internasional.


Di lihat dari sejarah berdirinya Provinsi Banten dapat dikategorikan menjadi Banten Pada Era Kesultanan dan Masa Kolonial. Pada abad 16-17, di bawah kekuasaan Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten menjadi salah satu kota perdagangan rempah-rempah di kawasan Asia Tenggara dan dikenal sebagai pusat kerajaan Islam serta pusat perdagangan nusantara. Pada masa itu Banten menjadi tempat persinggahan para pedagang dari berbagai belahan dunia, sekaligus menjadi pusat pertukaran dan persatuan kebudayaan.


Pada Orde Reformasi perjuangan masyarakat Banten semakin gigih karena mulai terasa semilirnya angin demokrasi dan isu tentang otonomi daerah. Pada 18 Juli 1999 diadakan Deklarasi Rakyat Banten di Alun-alun Serang yang kemudian Badan Pekerja Komite Panitia Provinsi Banten menyusun Pedoman Dasar serta Rencana Kerja dan Rekomendasi Komite Pembentukan Provinsi Banten (PPB).


Sejak itu mulai terbentuk Sub-sub Komite PPB di berbagai wilayah di Banten untuk memperkokoh dukungan terbentuknya Provinsi Banten. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan akhirnya pada 4 Oktober 2000 Rapat Paripurna DPR-RI mengesahkan RUU Provinsi Banten menjadi Undang-Undang No. 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten.


Kemudian pada tanggal 17 Oktober 2000 Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengesahkan UU No. 23 Tahun 2000 tentang PPB. Sebulan setelah itu pada 18 Nopember 2000 dilakukan peresmian Provinsi Banten dan pelantikan Pejabat Gubernur H. Hakamudin Djamal untuk menjalankan pemerintah provinsi sementara waktu sebelum terpilihnya Gubernur Banten definitif.


Pada tahun 2002 DPRD Banten memilih Dr. Ir. H. Djoko Munandar, MEng dan Hj. Atut Chosiyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten pertama.


 


 



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :


   Kembali ke Atas